Biaya Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Membengkak, Ada yang Salah?

- 22 Juni 2022, 11:06 WIB
Pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa 21 Juni 2022.
Pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa 21 Juni 2022. /Antara/Aprillio Akbar

PIKIRAN RAKYAT – Proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung diresmikan Presiden Jokowi pada 21 Januari 2016. Proyek yang merupakan kerja sama dengan China digadang-gadang menjadi yang pertama di Asia Tenggara.

Pada awalnya, proyek yang menelan biaya sekira Rp72 triliun ini ditargetkan rampung 2018 dan mulai beroperasi pada 2019. Nyatanya, hingga hari ini, proyek itu tidak kunjung selesai.

Ironisnya, kabar yang nyaring terdengar malah pembengkakan biaya dan akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jokowi berkomitmen tidak menggunakan APBN sedikit pun, melainkan dari investasi. Bahkan, ia menyebut lebih baik membangun kereta api di Papua, Sulawesi, dan Kalimantan apabila pemerintah menggunakan APBN.

Baca Juga: Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Membengkak Lagi, MSD Sebut Proyek Jokowi Bermasalah

“Kereta cepat itu tidak memakan uang APBN, tapi dari investasi. Kalau itu uang APBN, Rp60-70 triliun, ya saya pakai saja bikin kereta api di Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. Tapi ini dari investor, ya silakan, asalkan tidak menganggu anggaran APBN,” kata Jokowi.

China pada awalnya mematok biaya 5,1 miliar dolar AS. Namun, anggaran proyek itu terus bertambah 6,2 miliar dolar AS.

Anggaran meningkat lagi menjadi 8,6 miliar dolar AS. Anggaran itu menjadi polemik karena posisi keuangan Indonesia yang mulai ketat.

Anggaran untuk kereta cepat Jakarta-Bandung kembali membengkak dengan penambahan hingga 1,9 miliar dolar AS atau sekira Rp27,2 triliun.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Iko Bengkulu

Lirik Mars IAIN Curup

1 Juli 2022, 20:17 WIB