Muhammad Bukan Sekadar Nama, Kepemimpinan Profetik Mengedepankan Indikator

- 29 Juni 2022, 16:25 WIB
Kaligrafi nama Nabi Muhammad SAW.
Kaligrafi nama Nabi Muhammad SAW. /Pixabay/matponjot

PIKIRAN RAKYAT - Bahwa para Nabi dan Rasul utusan Allah adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan—termasuk Nabi Muhammad SAW.—yang dalam konteks Al-Qur'an disebut sebagai uswatun hasanah, teladan, proto type bagi ummatnya termasuk dalam konteks kepemimpinan

Tetapi dalam implementasi kepemimpinan, kita—yang nota benenya ummat Islam—terkadang terjebak pada pola kepemimpinan yang kapitalis, hedonis, serba instant dengan tanpa ‘menghadirkan Tuhan’. 

Sebagai seorang pemimpin, jangan menjadi orang yang ‘rabun dekat’, kita ingin mengadopsi kepemimpinan dari berbagai tokoh, sementara dalam Islam sudah sangat jelas ada pada diri Nabi Muhammad SAW.  

Baca Juga: Alasan Muhammad Ali Menolak Namanya Dipajang di The Hollywood Walk of Fame

Sehingga jika Nabi Muhammad SAW., sebagai teladan, maka bisa diadaptasi—walau tidak sesempurna apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.—misalnya ini dilakukan oleh khulafaur Rasyidin dan juga Umar bin Abdul Aziz. 

Ilustrasi keagungan Nabi dalam berbagai aspek—termasuk dalam kepemimpinannya—bukan upaya untuk kembali ke zaman sahabat di masa lalu. 

Tetapi sebuah upaya untuk menengok khazanah Islam dengan menerapkan prinsip-prinsip hidup sesuai dengan esensi Islam dan mengkontekstualisasikannya di era modern.

Baca Juga: Marak Maling Uang Rakyat, Kepemimpinan Partai Politik, dan Pembajakan Kekuasaan

Maka ini sebuah upaya untuk kembali ke teks dengan mendialogkan teks dengan realita sehingga esensi kebenaran teks sebagai pedoman sepanjang zaman semakin kuat resonansinya. 

Prinsip-prinsip Islam mampu berdiri tegak di bumi Allah dengan merangkul dan memberikan kemanfaatan serta rahmat pada seluruh umat.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network